Sunday, December 9, 2018

Gedung Yosodarmo



Gedung Pertemuan Yosodarmo
Purwokerto 

Enam September 1945, Soedirman yang baru terpilih sebagai Komandan BKR Karesidenan Banyumas memberikan pengarahan di tempat ini. Waktu berjalan dan Soedirman tercatat sebagai Panglima TNI walaupun ada rumor bahwa Sjahrir pada waktu itu kurang setuju dan Soedirman terpilih karena sebagian delegasi Jawa Timur memilih pulang. Salah seorang anak buahnya berkata bahwa Soedirman adalah orang yang kharismatik, pada waktu berpidato, semua diam mendengarkan. Hal yang tidak dimiliki oleh banyak orang, bahkan Oerip Soemohardjo sekalipun.
Sebagian bangunan yang terletak di seberang rumah keluarga saya ini sekarang nyaris roboh. Dulu pernah digunakan untuk TK Panca Bhakti dan tempat saya bernain layang-layang di halamannya.
Di jalan Yosodarmo Purwokerto.

Keturunan Mertadiredja III dan Bukunya



Buku-buku ini disusun berdampingan di lemari buku dan tidak dipih secara acak, melainkan sengaja dikumpulkan jadi satu.
Adalah Pangeran Aria Mertadiredja III, Bupati Banyumas 1880 –1913 yang menyatukannya. Semua yang ditulis dalam buku yang tampak di foto adalah keturunannya.

Sudjiman Mertadiredja Gandasubrata (Cucu), Bupati Banyumas, Residen Banyumas
Purwoto Suhadi Gandasubrata (Cicit/Buyut), Ketua Mahkamah Agung RI
Mardjana Mertadiredja (Anak), Kapten KNIL, Anggota Volkraad
Endang Rahayu Sedyaningsih (Cicit/Buyut), Menteri Kesehatan
Ratmini Soedjatmoko Gandasubrata (Cicit/Buyut), istri Soedjatmoko, mantan Rektor Universitas PBB
Sumitro Kolopaking (Cucu), Bupati Banjarnegara, Residen Pekalongan

Tramhotel Poerwokerto


 Kredit foto: Google Street View

Berdirinya Stasiun Serajoedal Stoomtrammaatschappij (SDS) di desa Kranji Purwokerto Timur akhir abad ke-19 berdampak pada munculnya pusat keramaian baru. Salah satunya adalah berdirinya Tram Hotel yang terletak di Groote Postwerg, seberang Stasiun SDS.
Tramhotel yang berdiri tahun 1915 dan merupakan hotel milik S.D.S adalah hotel terbesar di Purwokerto, lebih besar dari Hotel Van de Beek di sebelah baratnya. Hotel ini berkapasitas 22 kamar tidur dengan harga rata-rata f 8 f 9 untuk single bed dan f 16.50 untuk double bed. Hotel ini tampaknya dibangun dengan tujuan sebagai hotel transit bagi penumpang kereta untuk tujuan Soerabaia maupun Batavia seperti iklan yang dipasang pada Koran Indische Courant tahun 1923.
Kini Tramhotel menjadi kantor PT. KAI Daerah Operasi V Purwokerto.




Sunday, February 5, 2017

Kompi Entjoeng


Kompi Entjoeng adalah nama lain untuk Tentara Peladjar Kompi 340 yang dibentuk di Purwokerto. Komandannya bernama Entjoeng Abdoellah Sadjadi, kelahiran Jeruklegi Cilacap tahun 1928. Pada waktu duduk di kelas 3 SMP Entjoeng sudah menjadi komandan regu kompi Pasukan Polisi Pelajar di Semarang dan terlibat dalam Pertempuran Lima Hari di kota Semarang. Setelah proklamasi kemerdekaan ia pulang dan melanjutkan sekolah di Purwokerto.
Kompi Entjoeng inilah yang menjaga kota Purwokerto waktu Agresi Belanda I pada tanggal 31 Juli 1947. Tentara RI pada waktu itu menghadang di daerah Tasikmalaya dan Bumiayu karena mengira Belanda akan datang dari arah sana. Ternyata Belanda masuk dari Sokaraja sehingga dengan tergesa-gesa semua Instansi Republik meninggalkan Purwokerto dan Kompi Entjoeng diperintahkan untuk mengadakan bumi hangus di Purwokerto. Bersama pasukan lainnya, Kompi Entjoeng melancarkan serangan malam ke asrama militer Belanda beberapa hari kemudian. Keesokan harinya Belanda membalas dan jatuh beberapa korban, diantaranya Kakekat Kusumo Kartanegara, kemenakan Bupati Banyumas Sudjiman Gandasubrata. Dua anak Sudjiman yaitu Adjito dan Purwoto Gandasubrata juga ikut bergabung dan bertempur sebagai Tentara Pelajar. Setelah masa gencatan senjata, Kompi Entjoeng dipecah dan digabung dalam kompi baru sampai kemudian seluruh Tentara Peladjar digabung dalam Brigade 17/Tentara Peladjar. Brigade tersebut didemobilisasi tahun 1951, Entjoeng melanjutkan karir militernya dan pernah menjabat sebagai
Kapuspen Hankam dengan pangkat terakhir Brigadir Jendral sebelum meninggal tahun 1983 pada umur 55 tahun. Namanya dipakai sebagai salah satu jalan di Purwokerto.

Roti Go



Purwokerto pada suatu waktu


Purwokerto pada suatu waktu..
Jalan Merdeka & Taman Merdeka

Pertunjukkan di Purwokerto




Tan Hok Dji



Tan Hok Djie adalah seorang saudagar batik di Poerbolinggo Jawa Tengah, dilahirkan di Bobotsari, kota Kecamatan di Kabupaten Purbolinggo pada tahun 1893. Ayahnya bernama Tan Tek Tjiang, pada tahun 1912 mulai berdagang kain dan menikah pada umur 20. Tahun 1923 Tan Hok Djie mulai memproduksi batik dan berkembang menjadi besar. Naman Tan Hok Dji tercatat dalam buku Who's Who Orang-Orang Tionghoa Terkemuka di Djawa terbitan tahun 1936. Bekas rumah kediamannya berikut perabot dan barang-barang lainnya di Purbalingga Jawa Tengah masih terawat rapi tanpa renovasi.

Eks NV Kho Lie












Eks NV Kho Lie di Sokaraja
Sekarang sudah tidak berbekas

Eks Kantor Rockefeller Foundation

Eks kantor Rockefeller Foundation di jalan R. A. Wiryaatmadja no. 25 Purwokerto, sudah direnovasi....

Jejak "Toko Jepang" di Purwokerto


Eks Toko Suzuki
Jejak "Toko Jepang" di Purwokerto

Berawal dari keinginan untuk memperbaiki nasib, gelombang imigran Jepang mulai tiba di Hindia Belanda awal abad ke-20. Sebagian besar memulai aktivitas perdagangan dengan cara berdagang keliling sampai cukup modal untuk membuka toko kecil, yang kemudian diikuti oleh pembukaan toko jaringan.
Toko milik para pedagang Jepang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Toko Jepang. Meta Sekar Puji Astuti dalam buku karyanya, Apakah Mereka Mata-Mata?, Yogyakarta:Penerbit Ombak, 2008, menulis bahwa berbeda dengan toko milik orang China yang lebih menyukai proses tawar menawar, Toko Jepang memilih strategi harga pas, yang kadang diikuti dengan pencatuman label harga serta mengadakan obral harga pada waktu tertentu. Seorang senior citizen di Purwokerto bercerita bahwa pada waktu kecil ia pernah mendapat undian jam weker dari Toko Suzuki, suatu strategi marketing yang cukup langka pada waktu itu.
Dari penuturan beberapa nara sumber, ada dua Toko Jepang di Purwokerto, yaitu Toko Suzuki yang sekarang menjadi Toko Obor di jalan Jendral Sudirman dan satu toko lainnya terletak kurang lebih 50 meter sebelah baratnya yang kemudian menjadi Toko Braling dan sekarang menjadi NN Fashion.
Toko Suzuki yang menjual barang-barang keperluan rumah tangga kemungkinan muncul belakangan dan merupakan jaringan toko yang cukup besar, mengingat beberapa kartupos foto (Photo Post Card) Kota Purwokerto mempunyai marking Toko Suzuki di sudut kanan bawah. Jarang toko kecil yang bisa menerbitkan post card jenis itu.
Zaman keemasan Toko Jepang berakhir tahun 1941 pada saat hubungan Jepang - Hindia Belanda memburuk, orang-orang Jepang kembali ke negaranya dan assetnya disita pemerintah Hindia Belanda.

Eks PO Abadi


Art Deco di Purwokerto
Satu lagi yang tersisa
Rumah yang terletak di jalan Masjid ini dulu adalah kediaman pemilik dan kantor PO Abadi yang melayani rute Purwokerto-Purbalingga-Bobotsari dan Purwokerto-Cilacap, setelah dijual sempat beberapa kali disewakan dan saat ini masih kosong

Briefkaart


Kartu Pos yang dikirim oleh R. Ajoe. A. A. Soemitro Kolopaking pada seorang pemilik toko dan montir radio di Purwokerto berisi permintaan agar radionya yang rusak untuk diperbaiki. Pengirim kartu pos ini adalah istri dari R. A. A. Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, Bupati Banjarnegara tahun 1926-1949, seorang tokoh freemasonry Indonesia yang menjadi Suhu Agung pertama dari Tarekat Mason Indonesia. Soemitro Kolopaking yang dilahirkan di Papringan Banyumas merupakan cucu Bupati Banyumas Pangeran Aria Mertadiredja III.

Wednesday, August 24, 2016

Rumah Dinas Residen Banyumas


Selesai dibangun awal tahun 1939, rumah ini merupakan pengganti rumah dinas lama di kota Banyumas karena pindahnya ibukota Karesidenan dari kota Banyumas ke Purwokerto.
Lama sebelum Pemerintah Hindia Belanda menggabungkan Kabupaten Banyumas dan Purwokerto, orang-orang tua di desa Kranji telah meramalkan bahwa di kemudian hari dukuh Sitapen (lokasi rumah ini) akan terpilih menjadi rumah karesidenan walaupun mereka tahu di kota Banyumas sudah berdiri rumah residen yang besar dan luas
Pada masanya, rumah ini merupakan bangunan termegah di Purwokerto. Sekarang menjadi Rumah Jabatan Kepala Bakorwil III Banyumas.



The One & Only: "Ragasemangsang" Makam di tengah jalan Purwokerto


Konon ini adalah makam seorang jawara yang kalah duel dengan local hero Purwokerto, Kyai Pekih (juga diabadikan sebagai nama jalan di sebelah baratnya). Ia tewas dan tubuhnya tersangkut di pohon, karena itu dinamakan ragasemangsang (raga=tubuh, semangsang/temangsang=tersangkut). Lokasi makamnya dinamakan Jalan Ragasemangsang dan terletak di tengah persimpangan dengan Jalan Kabupaten. Sampai saat ini belum ada orang yang mengikuti jejaknya untuk dimakamkan di tengah jalan...

Societeit Panti Soemitro


Jika Societeit Slamat (kini RRI Purwokerto) merupakan tempat berkumpulnya kaum elit Eropa maka Societeit Panti Soemitro yang dibangun tahun 1917 merupakan tempat berkumpulnya kaum elit pribumi di Purwokerto. Gedung ini merupakan tempat sosialisasi, bermain billyard serta melakukan aktivitas kesenian seperti berlatih tari dan pentas wayang orang. Pada waktu Belanda melakukan Agresi Militer I, Panti Soemitro termasuk salah satu bangunan yang dibumihanguskan tentara Republik Indonesia dan baru dibangun kembali tahun 1949 pada waktu Bupati Banyumas dijabat oleh R. Sapangkat.
 

Kini bangunan yang terletak di jalan Ragasemangsang ini menjadi sekretariat dan tempat berkumpulnya para pensiunan pegawai.

 

De Woning van de Administrateur van de Suikerfabriek Poerwokerto

Rumah administratur Pabrik Gula Poerwokerto ini terletak di jalan Jenderal Sudirman Purwokerto sebelah timur Bank Mandiri. Suikerfabriek Poerwokerto didirikan pada tahun 1893 dan terletak di seberangnya (sekarang menjadi Rita Supermarket). Pada Desember 1945 sampai Juli 1947 rumah ini menjadi Markas Resimen Purwokerto dan pada waktu Belanda menduduki Purwokerto Juli 1947 menjadi stasiun pengisian bahan bakar tentara Belanda sampai Desember 1949. Tahun 1959 bangunan ini menjadi kantor dan pangkalan bus Damri dan akhirnya pada penghujung dekade 1990an seperti terjadi di banyak tempat menjadi komplek ruko yang diberi nama Ruko Satria.


Thursday, August 18, 2016

Flyer film tahun ‘50an; Jejak bioskop di Purwokerto




Gedung bioskop di Purwokerto telah ada sejak sebelum kemerdekaan, ada City Theater yang merupakan jaringan bioskop di beberapa kota di Hindia Belanda.  City menempati gedung Societeit Slamat yang sekarang menjadi RRI Purwokerto dan eksis sampai tahun 1950.  Dekade 1950an tercatat ada tiga gedung bioskop di Purwokerto yaitu Gloria, Elita dan Capitol. Gloria kemudian menjadi Srimaya, Elita menjadi Nusantara, dan Capitol menjadi Garuda. Pada periode tahun 1970-an, Elita menjadi  bioskop dengan segmen kelas menengah ke atas, sedang Gloria dan Capitol untuk segmen kelas bawah. Setelah munculnya gedung bioskop lainnya, Elita terdegradasi menjadi bioskop kelas bawah. Dulu bioskop masih mengenakan 2 tarif, yaitu kelas 1 dan kelas 2. Kelas 1 untuk penonton yang membayar lebih mahal terletak di belakang  dan memakai nomor kursi, sedang kelas 2 terletak di depan tanpa nomor sehingga penonton berebut masuk untuk memilih kursi.  Menonton film zaman dulu berbeda dengan sekarang. Bila operan film terlambat atau roll film rusak, maka penonton berteriak mengeluarkan semua kosa kota terjorok yang dimiliki, ditambah lagi dengan sampah-sampah yang melayang di udara seperti perang bintang. Maklum saja, setiap zaman memiliki semangatnya sendiri. Bioskop Capitol yang sekarang sudah tidak berbekas adalah gedung bioskop bergaya art deco dan memiliki balkon untuk penonton kelas 1. Setelah turun peringkat menjadi bioskop kelas bawah, balkon itu tetap digunakan dan kadang menjadi WC umum untuk penonton yang malas turun tangga. Sekarang, Capitol dan Elita sudah lenyap,  sedang Gloria sudah alih fungsi menjadi gudang.




Thursday, August 11, 2016

Banyumas Kota yang Hilang

Banyumas semula adalah kota terbesar dalam Karesidenan Banyumas yang mencakup empat Kabupaten: Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara. Kota Banyumas didirikan setelah berakhirnya Perang Jawa tahun 1830. Pemerintah Hindia Belanda memang merancang Banyumas sebagai ibukota Kabupaten sekaligus ibukota Karesidenan, sehingga banyak bangunan dan infrastruktur sudah disiapkan pada awal berdirinya Banyumas. Sungai Serayu di Banyumas merupakan jalan pengangkutan utama pada masanya. Barang-barang impor dari luar negeri masuk Banyumas melalui Cilacap dengan perahu setelah itu baru didistribusikan ke seluruh wilayah Karesidenan. Sebaliknya, hasil bumi seperti gula, kopi, teh, nilai dan lainnya dikumpulkan di Banyumas sebelum diangkut dengan perahu ke Cilacap untuk dikirim ke luar negeri. 



Tahun 1886 ketika jalan kereta api Bandung – Jogja via Maos dan Kroya dibuka dan tidak lama kemudian pengangkutan barang dapat dilakukan dari Maos melalui Purwokerto ke Banjarnegara setelah berdirinya Serajoedal Stoomstram Maatschappij (SDS) tahun 1893, kejayaan kota Banyumas mulai redup. Ditambah lagi dengan dibukanya jalur kereta api cepat dari Cirebon ke Jogja melalui Purwokerto dan Kroya.


Sebaliknya, Purwokerto semakin bertambah ramai, penduduknya bertambah, sekolah-sekolah dan kantor-kantor baru didirikan. Selain itu Purwokerto menjadi pusat aktivitas Zending dan misionaris yang ikut mendirikan sekolah, gereja dan rumah sakit.
Depresi besar yang melanda dunia sejak tahun 1929 terasa akibatnya sampai ke Hindia Belanda dan memaksa pemerintah Hindia Belanda melakukan penghematan besar-besaran. Mulai bulan Januari 1936 Kabupaten Purwokerto yag semula terpisah dengan Kabupaten Banyumas dihapuskan dan dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Banyumas. Distrik Purwareja yang semula masuk Kabupaten Banyumas dimasukkan ke wilayah Kabupaten Banjarnegara. 





 Puncak beralihnya ibukota Kabupaten dari Banyumas ke Purwokerto adalah dengan dipindahkannya pendopo Kabupaten Banyumas, yaitu Pendopo Sipanji ke bangunan kabupaten di Purwokerto awal tahun 1937. Sejak saat itu, Banyumas yang semula adalah ibukota Karesidenan dan Kabupaten terdegradasi menjadi ibukota Kecamatan. Purwokerto menjadi ibukota Kabupaten Banyumas yang baru dan Banyumas menjadi kota yang senyap