Sunday, February 5, 2017
Tan Hok Dji
Tan Hok Djie adalah seorang saudagar batik di Poerbolinggo Jawa Tengah,
dilahirkan di Bobotsari, kota Kecamatan di Kabupaten Purbolinggo pada
tahun 1893. Ayahnya bernama Tan Tek Tjiang, pada tahun 1912 mulai
berdagang kain dan menikah pada umur 20. Tahun 1923 Tan Hok Djie mulai
memproduksi batik dan berkembang menjadi besar. Naman Tan Hok Dji
tercatat dalam buku Who's Who Orang-Orang Tionghoa Terkemuka di Djawa
terbitan tahun 1936. Bekas rumah kediamannya berikut perabot dan
barang-barang lainnya di Purbalingga Jawa Tengah masih terawat rapi
tanpa renovasi.
Eks Kantor Rockefeller Foundation
Eks kantor Rockefeller Foundation di jalan R. A. Wiryaatmadja no. 25 Purwokerto, sudah direnovasi....
Jejak "Toko Jepang" di Purwokerto
Eks Toko Suzuki
Jejak "Toko Jepang" di Purwokerto
Berawal
dari keinginan untuk memperbaiki nasib, gelombang imigran Jepang mulai
tiba di Hindia Belanda awal abad ke-20. Sebagian besar memulai aktivitas
perdagangan dengan cara berdagang keliling sampai cukup modal untuk
membuka toko kecil, yang kemudian diikuti oleh pembukaan toko jaringan.
Toko milik para pedagang Jepang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Toko Jepang. Meta Sekar Puji Astuti dalam buku karyanya, Apakah Mereka Mata-Mata?, Yogyakarta:Penerbit Ombak, 2008, menulis bahwa berbeda dengan toko milik orang China yang lebih menyukai proses tawar menawar, Toko Jepang memilih strategi harga pas, yang kadang diikuti dengan pencatuman label harga serta mengadakan obral harga pada waktu tertentu. Seorang senior citizen di Purwokerto bercerita bahwa pada waktu kecil ia pernah mendapat undian jam weker dari Toko Suzuki, suatu strategi marketing yang cukup langka pada waktu itu.
Dari penuturan beberapa nara sumber, ada dua Toko Jepang di Purwokerto, yaitu Toko Suzuki yang sekarang menjadi Toko Obor di jalan Jendral Sudirman dan satu toko lainnya terletak kurang lebih 50 meter sebelah baratnya yang kemudian menjadi Toko Braling dan sekarang menjadi NN Fashion.
Toko Suzuki yang menjual barang-barang keperluan rumah tangga kemungkinan muncul belakangan dan merupakan jaringan toko yang cukup besar, mengingat beberapa kartupos foto (Photo Post Card) Kota Purwokerto mempunyai marking Toko Suzuki di sudut kanan bawah. Jarang toko kecil yang bisa menerbitkan post card jenis itu.
Zaman keemasan Toko Jepang berakhir tahun 1941 pada saat hubungan Jepang - Hindia Belanda memburuk, orang-orang Jepang kembali ke negaranya dan assetnya disita pemerintah Hindia Belanda.
Toko milik para pedagang Jepang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Toko Jepang. Meta Sekar Puji Astuti dalam buku karyanya, Apakah Mereka Mata-Mata?, Yogyakarta:Penerbit Ombak, 2008, menulis bahwa berbeda dengan toko milik orang China yang lebih menyukai proses tawar menawar, Toko Jepang memilih strategi harga pas, yang kadang diikuti dengan pencatuman label harga serta mengadakan obral harga pada waktu tertentu. Seorang senior citizen di Purwokerto bercerita bahwa pada waktu kecil ia pernah mendapat undian jam weker dari Toko Suzuki, suatu strategi marketing yang cukup langka pada waktu itu.
Dari penuturan beberapa nara sumber, ada dua Toko Jepang di Purwokerto, yaitu Toko Suzuki yang sekarang menjadi Toko Obor di jalan Jendral Sudirman dan satu toko lainnya terletak kurang lebih 50 meter sebelah baratnya yang kemudian menjadi Toko Braling dan sekarang menjadi NN Fashion.
Toko Suzuki yang menjual barang-barang keperluan rumah tangga kemungkinan muncul belakangan dan merupakan jaringan toko yang cukup besar, mengingat beberapa kartupos foto (Photo Post Card) Kota Purwokerto mempunyai marking Toko Suzuki di sudut kanan bawah. Jarang toko kecil yang bisa menerbitkan post card jenis itu.
Zaman keemasan Toko Jepang berakhir tahun 1941 pada saat hubungan Jepang - Hindia Belanda memburuk, orang-orang Jepang kembali ke negaranya dan assetnya disita pemerintah Hindia Belanda.
Eks PO Abadi
Art Deco di Purwokerto
Satu lagi yang tersisa
Rumah yang terletak di jalan Masjid ini dulu adalah kediaman pemilik dan kantor PO Abadi yang melayani rute Purwokerto-Purbalingga-Bob
Briefkaart
Kartu Pos yang dikirim oleh R. Ajoe. A. A. Soemitro Kolopaking pada
seorang pemilik toko dan montir radio di Purwokerto berisi permintaan
agar radionya yang rusak untuk diperbaiki. Pengirim kartu pos ini
adalah istri dari R. A. A. Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, Bupati
Banjarnegara tahun 1926-1949, seorang tokoh freemasonry Indonesia yang
menjadi Suhu Agung pertama dari Tarekat Mason Indonesia. Soemitro
Kolopaking yang dilahirkan di Papringan Banyumas merupakan cucu Bupati
Banyumas Pangeran Aria Mertadiredja III.
Subscribe to:
Posts (Atom)





















